blognya falent
Kamis, 02 Juni 2011
Hati-hati dijalan
Gunungkidul merupakan salah satu kabupaten di provinsi Yogyakarta. Di pesisir selatannya banyak terdapat potensi wisata yang menarik yaitu berupa pantai. Karena rasa penasaran, saya dan teman-teman memutuskan untuk menjelajah salah satu pantai.
Perjalanan dilaksanakan pada hari selasa tanggal 31 mei 2011 yang merupakan hari libur karena kampus kami digunakan sebagai tempat tes SNMPTN. Tepat pukul 9 kami berangkat. Bagiku perjalanan jauh memang sudah biasa. Apalagi keluar masuk Wilayah Gunungkidul. karenan memang sering survey terutama di daerah Gua Rancang, playen. Tapi jangan asnda meremehkan Jalan raya, karena anda bisa celaka jika tidak waspada. Dan saya mengalaminya sendiri. Saya terjatuh dari motor di Tikungan Patuk setelah Bukit bintang. Jalanan yang licin karena tumpahan Oli yang berceceran membuat motor Slip. tapi hanya lecet-lecet sedikit kok di kaki sebelah kiri.
Menapaki Kota Lama Semarang
Bangunan tua yang megah dan menawan, namun tidak terawat dan rapuh termakan usia. Suasana yang panas menyengat seolah matahari tengah memperlihatkan kekuatannya. Belum lagi ditambah oleh hiruk-pikuk kendaraan yang lalu-lalang membuat perjalanan ini terasa amat panjang. Begitulah suasana kota lama semarang. Suatu kawasan peninggalan kolonial Belanda.
Perjalanan selama 4 jam yang ditempuh dari kota Jogja dengan mengendarai sepeda motor bersama rekan-rekan cukup melelahkan. Tepat pukul 10.00 WIB, kami memasuki kota Semarang. Perjalanan antara Jogja - Semarang dapat ditempuh melalui jalur darat dengan menggunakan kendaraan pribadi maupun kendaraan umum.
Kota Semarang merupakan Ibukota dari provinsi Jawa Tengah, yang juga merupakan kota terbesar ke-5 di Indonesia. Pada masa kolonial Belanda, Semarang tepatnya di Kawasan Kota Lama yang dahulunya disebut sebagai little nederlan outstadt merupakan pusat pemerintahan di utara Pulau Jawa. Kawasan tersebut merupakan pusat perdagangan di Kota Semarang sekitar abad ke-18 yang memiliki luas sekitar 31 hektar dan terdapat lebih dari 50 bangunan cagar budaya.
•••
Pertualangan di kota Semarang tidak hanya kali ini saja. Sudah berulang kali saya menapaki kota ini hanya untuk menikmati suasananya yang penuh dengan nilai historis. Kota Semarang memang tak bisa lepas dari Kota Lama. Bagaikan dua sisi mata uang yang tak bisa dipisahkan, Kawasan Kota Lama telah menjadi ikon dari Kota Semarang sendiri. Kawasan kota lama Semarang menjadi saksi bisu sejarah Indonesia sejak abad ke-18. Belanda menduduki kawasan pantai utara Jawa Tengah dan kemudian mendirikan benteng dan juga kawasan permukiman warga Eropa terutama 8i9warga Belanda. Daerah pemukiman Belanda yang akhirnya menjadi embrio perkembangan kota Semarang pada masa selanjutnya.
Sesampainya di kawasan kota lama, kami bergegas mencari tempat peristirahatan untuk sejenak menghilangkan penat. Pilihan jatuh pada areal disekitar Gereja Blenduk yang disampingnya terdapat sebuah taman kecil yang rindang. Walaupun cuaca begitu panas, namun kami tetap merasa sejuk. Karena di taman tersebut terdapat beberapa pohon dan tanaman yang mengubah suasana menjadi lebih asri.
Pertualangan dimulai. Setelah beristirahat sejenak. Kami berjalan menyusuri kawasan tersebut. Cuaca yang panas menyengat tak mengurungkan niat dan semangat kami untuk tetap melangkah. Bangunan-bangunan tua berjejer rapi sepanjang jalan berkonblok. Gereja Blenduk yang menjadi bagian dari Kota Lama tampak berdiri megah dengan arsitekturnya yang unik dan menawan. Seperti halnya Gedung Asuransi Jiwasraya yang terletak di seberang Gereja Blenduk dan gedung ITC yang menjadi kantor PT. Perusahaan Dagang Indonesia. Namun sejauh mata memandang, suasana terlihat berbeda. Banyak bangunan historis yang terbengkalai tak terawat. Seolah-olah ditinggal oleh tuannya dan mati begitu saja termakan oleh usia. Hal tersebut nampak jelas ketika berada di jembatan yang menjadi pintu masuk ke Kawasan Kota Lama di depan Gedung Bank Mandiri. Tampak bahwa bangunan - bangunan tersebut sudah tak bertuan. Tergambar dari Bagian atapnya telah ambrol termakan usia atau mungkin sengaja dirusak oleh tangan - tangan yang tak bertanggung jawab.
Pada salah satu Bangunan tertera tulisan “P.N FADJAR BHAKTI SEMARANG” di sebelah pintu masuk. Entah pada waktu dulu digunakan sebagai apa saya pun tidak mengerti. Begitu juga pada waktu sekarang apakah bangunan itu masih difungsikan atau tidak. Tapi dilihat dari kondisinya yang rapuh dan berlumut, sepertinya bangunan tersebut memang sudah tidak digunakan lagi. Hal itu juga jelas terlihat dari sebuah iklan reklame yang tertempel di dinding bangunan yang menyebutkan bahwa gedung tersebut disewakan .
Setelah melihat bangunan tersebut, kami menyebrang untuk berpindah posisi. Beberapa rekan kelihatan cukup lelah dan memilih untuk beristirahat di sebuah bangunan lain yang cukup mewah. Jendela-jedelanya begitu besar dan ditutupi jeruji besi yang mungkin dijadikan sebagai pagar pembatas. Saya pun akhirnya berjalan sendiri meninggalkan rekan-rekan untuk mencari informasi tentang bangunan tersebut.
“Woww…”, betapa terkejutnya saya. Ternyata bangunan tersebut ialah sebuah Bank Mandiri. Jika ditelusuri ke dalamnya memanglah cukup besar. Tapi sayangnya pada waktu itu Bank tersebut tutup karena hari sabtu sehingga saya tidak bisa masuk ke dalam.
Didepannya terdapat dua buah ruangan yang posisinya mengapit pintu masuk utama ke dalam bank. Ruangan tersebut berfungsi sebagai tempat untuk mengambil uang melalui ATM. Saya pun masuk kedalam ruang ATM tersebut untuk mengecek saldo di tabungan sembari menyejukkan diri karena cuaca yang begitu panas pada waktu itu. Setelah beberapa saat berada di dalam ruang tersebut, saya akhirnya keluar karena melihat seorang bapak-bapak paruh baya yang berdiri di depan pintu masuk karena mungkin ia juga sedang mengantri untuk mengambil uang. “Mas, minta seribunya buat beli kopi.” Kata bapak itu. Dalam hati pun saya berkata “Lho?” Saya merasa heran mengapa bapak tersebut meminta uang seribu rupiah kepada saya. Mungkin ia menyangka bahwa saya adalah seorang wisatawan karena melihat gaya dan penampilan saya yang membawa kamera SLR. Tapi hal seperti itu juga terjadi pada orang lain sesaat setelah saya keluar dari ATM Center.
Ternyata apa yang ada dalam pikiran saya dengan kenyataannya sangat berbeda. Bapak paruh baya yang meminta uang tersebut ternyata ialah seorang tukang parkir, namun saya tetap merasa kebingungan karena saya bahkan tidak memarkirkan motor di depan Bank tersebut. Tapi ya sudahlah, Cuma uang seribu rupiah diikhlaskan saja.
Saya sempat berbincang-bincang dengan bapak yang tidak saya kenal namanya karena saya memang tidak menanyakan identitas dirinya. Beliau bercerita sedikit tentang Kawasan Kota Lama. Jika sore hari telah tiba, kawasan itu ramai dikunjungi oleh orang-orang hanya untuk sekedar menikmati senja di Kota Lama. Selain itu juga, banyak para fotografer yang datang untuk berburu foto dengan objek bangunan-bangunan tua yang ada di Kota lama.
Tapi setelah bercerita panjang lebar, saya merasa prihatin sekali setelah saya mendengar apa yang diceritakannya. Ternyata apa yang ia harapkan hampir sama dengan pikiran yang ada dalam otak saya. Sang bapak berharap supaya pemerintah Kota Semarang lebih memperhatikan Kawasan Kota Lama sendiri.
Pernah beberapa waktu yang lalu, Bapak tersebut bercerita ada rombongan pejabat Kota Semarang mengunjungi kawasan Kota Lama dan mengupayakan adanya revitalisasi Kota Lama. Tapi apa yang terjadi sekarang? Mungkin itu hanya sekedar wacana saja dan tidak ada realisasinya. Tapi setelah melihat situasi Kota Lama, nampaknya belum ada upaya revitalisasi dari pemerintah daerah setempat sendiri Hal itu sangat jelas terlihat ketika mengelilingi Kawasan kota Lama. Permukaan jalan yang bergelombang tidak rata. Belum lagi jika terjadi banjir rob kiriman dari laut jawa. Kejadian seperti itu bisa merusak dan membuat bangunan-bangunan tua menjadi rapuh karena air laut yang tingkat salinitasnya begitu tinggi.
Hal lainnya juga nampak pada banyaknya bangunan-bangunan kumuh yang mungkin menjadi warung dan tempat tinggal di sekitar Kota Lama. Seperti yang terlihat di depan Gedung Bank Mandiri. Keberadaan bangunan kumuh tersebut sangat mengganggu dan merusak pemandangan. Semua terlihat sangat kontras antara bangunan kumuh dan bangunan historis di Kota Lama.
Harusnya bangunan-bangunan kumuh yang dapat merusak pemandangan di Kota Lama itu di relokasi. Supaya kawasan Kota Lama bisa lebih terlihat sebagai kawasan yang penuh dengan nilai historisnya, bukan kawasan yang kumuh. Jika pemerintah daerah setempat memang serius untuk melakukan revitalisasi, Kota Lama bisa dikembangkan menjadi kawasan yang berpotensi sebagai objek pariwisata. Selain itu juga bisa memperlihatkan kembali suasana Kota Lama seperti dulunya.
Dalam merevitalisasi Kota lama, juga harus dilihat dari konteks sosial yang ada. Supaya tidak ada anggapan bahwa Kawasan Kota Lama hanya menjadi daerah mati yang berfungsi sebagai pemandangan ataupun pajangan belaka. Sebelum upaya-upaya pelestarian dan pemanfaatan Kawasan kota Lama dilakukan, semua pihak yang ikut terlibat baik antara pemerintah, akademisi dan masyarakat hendaknya sama-sama memahami terlebih dahulu bahwa Kawasan kota Lama juga bukan sumberdaya yang bisa diperlakukan sekehendak hati. Pikiran dan anggapan seperti inilah yang diharapkan mampu mengakomodasi beragam kepentingan dalam pengelolaan kawasan Kota Lama sehingga bisa bermanfaat bagi sebanyak mungkin pihak. Yang pada akhirnya Kawasan Kota Lama tidak hanya dipelihara, dilestarikan atau dimanfaatkan saja, tapi yang lebih penting ialah tidak dilupakannya nilai-nilai dan spirit yang terkandung didalamnya.
Langganan:
Postingan (Atom)